Pasang Iklan Gratis

Jejak 1.000 tahun Kampung Adat Cikondang, bertahan hidup jadi penjaga tradisi Sunda di Bandung

 Di balik rimbun pepohonan Desa Lamajang, Kabupaten Bandung, waktu seolah kehilangan detaknya. Di sana, di sebuah rumah kayu yang bersahaja, Anom Juhana (80) duduk bersila. 

Guratan di wajahnya adalah peta panjang sejarah lima generasi yang ia pikul di pundak.

Sebagai juru kunci Kampung Adat Cikondang, Anom bukan sekadar penjaga bangunan, ia adalah penjaga nyala api tradisi yang telah berpendar selama empat abad.

"Anu panjang tong diteuk-teuk, anu pendek ulah disambung (yang panjang jangan dipotong, yang pendek jangan disambung)," ucapnya lirih, mengutip amanat sang kakek, juru kunci keempat. 

Kalimat itu bukan sekadar rima, melainkan titah agung: yang panjang jangan dipotong, yang pendek jangan disambung.

Sebuah filosofi tentang kebersahajaan untuk tidak mengubah apa yang telah digariskan oleh semesta.

Prasasti Hidup Seribu Tahun di Kampung Adat Cikondang

Rumah adat itu berdiri tunggal, penyintas tunggal dari kebakaran hebat masa silam yang melahap 60 rumah lainnya. 

Meski secara lisan sejarah menyebut angka 400 tahun sejak abad ke-17, naskah-naskah kuno yang tersimpan rapat di sana membisikkan usia yang lebih tua.

Penelitian arkeologis dan naskah tua mengisyaratkan bahwa jejak peradaban di tanah ini telah bermula sejak 800 hingga 1.000 tahun silam—sebuah masa ketika Jakarta belum lahir dan Indonesia masih menjadi mimpi di cakrawala.

Arsitektur rumah ini adalah sebuah kitab terbuka. Ukurannya yang 8 x 12 meter bukan sekadar angka, melainkan perlambang delapan bilangan tahun dan dua belas nama bulan. 

Di halamannya, berdiri pagar "Kandang Jaga" dengan pola silang segitiga. Bagi masyarakat Sunda, itu adalah simbol Tritangtu: tekad, ucap, dan lampah. Tiga pilar kesadaran manusia yang harus selaras agar hidup tak limbung.

"Kami tidak mengenal pasal-pasal hukum buatan manusia. Di sini, yang melanggar adat hanya berurusan dengan hukum alam dan Sang Pencipta," ujar Anom dengan tatapan mata yang teduh namun tajam.

Islam dalam Simbol dan Sunyi di Kampung Adat Cikondang

Bagi Anom, rumah adat adalah perjumpaan antara kearifan lokal dan spiritualitas Islam. Tak ada syiar yang menggelegar, yang ada hanyalah simbol-simbol yang meresap ke dalam keseharian.  

Lima buah jendela adalah pengingat lima waktu salat, sementara pintu tunggal menjadi penanda hakikat tauhid: bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Tak jauh dari rumah, Hutan Larangan berdiri angkuh dalam kesunyiannya. Di sanalah, konon, para wali berkumpul, bermusyawarah menyusun strategi dakwah melalui bahasa simbol. 

Hutan itu pula yang menjadi saksi bisu perjuangan, tempat benda pusaka disembunyikan dari incaran kolonial, sekaligus perlindungan bagi warga saat burung-burung besi penjajah menderu di langit.

Di dalamnya, terdapat sembilan makam wali dan para pendiri desa. Sebuah area suci yang tabu dimasuki tanpa niat yang murni. 

Kesucian ini dijaga ketat dengan berbagai pantangan; mereka yang tengah datang bulan atau non-muslim dilarang menginjakkan kaki di area adat demi menjaga vibrasi kesucian yang telah terpelihara berabad-abad.

Kampung Adat Cikondang Melawan Arus Zaman

Di tengah gempuran modernitas, rumah adat Cikondang tetap setia pada kesahajaan. Listrik dilarang masuk, membiarkan malam hanya ditemani temaram minyak atau rembulan.  

Di dapur, bumbu penyedap kimiawi adalah barang haram, dan api hanya boleh lahir dari kayu bakar, bukan dari tabung gas yang mendesis.

Setiap bulan Muharram, suasana berubah menjadi tasyakuran yang khidmat.  

Puncaknya pada tanggal 15, sebuah ritus tasyakur bi nikmat digelar sebagai bentuk syukur atas napas dan hasil bumi.

"Rumah-rumah di sekitar sudah berganti tembok dan genteng. Itu tidak apa-apa. Namun, rumah ini jangan. Ia harus tetap seperti ini," tegas Anom.

Selama 400 tahun, rumah ini hanya bersalin rupa melalui renovasi sebanyak empat kali. 

Sebagian bilik bambu mungkin telah diganti, namun jantungnya—tiang-tiang penyangga dan ruh di dalamnya—masih sama seperti saat pertama kali dipancangkan. 

Di tangan Anom Juhana, Cikondang bukan sekadar desa, melainkan sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, ada kebijakan yang hanya bisa ditemukan dalam diam dan kesetiaan pada akar.

0 Response to "Jejak 1.000 tahun Kampung Adat Cikondang, bertahan hidup jadi penjaga tradisi Sunda di Bandung"

Posting Komentar