Setelah AS-Iran, giliran Israel dan Hizbullah setuju hentikan perang
Israel dan kelompok Hizbullah sepakat memberlakukan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat (19/6/2026) pukul 16.00 waktu setempat. Kesepakatan itu dikonfirmasi seorang pejabat senior Amerika Serikat kepada Anadolu, meski rincian lengkap perjanjian belum diumumkan.
Pengumuman tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk meredakan konflik di Timur Tengah, sehari setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang di berbagai front, termasuk Lebanon.
Meski gencatan senjata telah disepakati, bentrokan masih terjadi menjelang waktu pelaksanaannya. Serangkaian serangan udara Israel di Lebanon selatan dan timur sejak Jumat dini hari dilaporkan menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai sejumlah lainnya.
Korban jiwa tersebut menjadikan eskalasi terbaru sebagai salah satu yang paling mematikan sejak kesepakatan antara Washington dan Teheran diumumkan.
Di pihak Israel, empat tentaranya juga dilaporkan tewas dalam serangan Hizbullah di wilayah Lebanon selatan.
1. Israel tetap pertahankan pasukan di Lebanon Selatan
Pemerintah Israel menegaskan, gencatan senjata akan tetap berlaku selama Hizbullah mematuhi kesepakatan yang telah dicapai. Mengutip harian Israel Yedioth Ahronoth, seorang pejabat Israel mengatakan, kesepakatan tersebut memungkinkan militer Israel tetap berada di wilayah Lebanon selatan meski penghentian pertempuran mulai diberlakukan.
Menurut pejabat itu, keberadaan pasukan Israel diperlukan untuk menghadapi potensi ancaman keamanan yang dapat muncul sewaktu-waktu.
“Jika Hizbullah tidak menyerang, kami tidak akan menyerang mereka. Jika mereka menyerang kami, kami akan merespons,” kata pejabat tersebut seperti dikutip Yedioth Ahronoth.
Pernyataan itu menunjukkan meski gencatan senjata telah diumumkan, Israel tetap mempertahankan opsi militer apabila menilai terdapat ancaman terhadap keamanan negaranya.
2. Serangan terus berlanjut jelang berlakunya gencatan senjata
Dikutip dari Anadolu, sebelum kesepakatan mulai berlaku, militer Israel melanjutkan operasinya terhadap target-target yang diklaim terkait dengan Hizbullah.
Israel Defense Forces (IDF) sebelumnya menyatakan, telah menyerang puluhan sasaran milik kelompok yang didukung Iran tersebut dan mengklaim menewaskan sejumlah anggotanya.
Di Lebanon, gelombang serangan udara terbaru memicu kekhawatiran baru di tengah jutaan warga yang telah terdampak konflik selama beberapa bulan terakhir.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, korban tewas terus bertambah sepanjang hari akibat serangan yang menghantam sejumlah wilayah di bagian selatan dan timur negara itu.
Situasi tersebut memperlihatkan rapuhnya kondisi keamanan di lapangan bahkan saat kedua pihak telah menyepakati penghentian pertempuran.
3. Kesepakatan jadi ujian perdamaian di Timur Tengah
Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah dipandang sebagai salah satu elemen penting dalam upaya meredakan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan itu muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani memorandum yang membuka jalan bagi proses negosiasi selama 60 hari untuk menyelesaikan berbagai isu yang menjadi sumber ketegangan, termasuk konflik di Lebanon.
Namun sejumlah pertanyaan masih muncul terkait implementasi kesepakatan tersebut, terutama karena Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan dalam waktu dekat.
Belum ada keterangan resmi dari Hizbullah mengenai mekanisme pelaksanaan gencatan senjata maupun respons terhadap keputusan Israel, untuk tetap mempertahankan kehadiran militernya di wilayah tersebut.
Dengan kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing, pelaksanaan gencatan senjata dalam beberapa hari ke depan akan menjadi ujian penting bagi upaya menciptakan stabilitas yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.


0 Response to "Setelah AS-Iran, giliran Israel dan Hizbullah setuju hentikan perang"
Posting Komentar